Lewati ke konten utama
Porsi PDB nonmigas: 55% PDB riil 2025 |Tingkat pengangguran warga Saudi: 7,2% Kuartal IV 2025 |Aset kelolaan PIF: USD 1,21 triliun Realisasi 2025 |FDI terhadap PDB: 2,8% Data terbaru 2025 |Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja: 33,9% Data terbaru 2025 |Peringkat kredit: Aa3/A+/A+ Moody's/Fitch/S&P |Pertumbuhan PDB: 4,5% Pertumbuhan riil 2025 |Jemaah umrah internasional: Lebih dari 18 juta 2025 |Porsi PDB nonmigas: 55% PDB riil 2025 |Tingkat pengangguran warga Saudi: 7,2% Kuartal IV 2025 |Aset kelolaan PIF: USD 1,21 triliun Realisasi 2025 |FDI terhadap PDB: 2,8% Data terbaru 2025 |Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja: 33,9% Data terbaru 2025 |Peringkat kredit: Aa3/A+/A+ Moody's/Fitch/S&P |Pertumbuhan PDB: 4,5% Pertumbuhan riil 2025 |Jemaah umrah internasional: Lebih dari 18 juta 2025 |
Beranda › Visi 2030 Arab Saudi › Memajukan Nilai-Nilai Islam dan Identitas Nasional
Lapisan 1

Memajukan Nilai-Nilai Islam dan Identitas Nasional

Bagaimana Arab Saudi memperkuat perannya sebagai penjaga dua tempat suci Islam, meningkatkan kapasitas Umrah menuju 30 juta jemaah, dan memperluas pengakuan warisan UNESCO di bawah Visi 2030.

Donovan Vanderbilt · · 7 menit membaca
Memajukan Nilai-Nilai Islam dan Identitas Nasional — Visi — Visi 2030 Arab Saudi

KPI Memajukan Nilai Islam dan Identitas Nasional

KPI memajukan nilai Islam dan identitas nasional menghubungkan tanggung jawab Arab Saudi sebagai penjaga dua masjid tersuci dalam Islam dengan hasil Visi 2030 yang terukur. Visi 2030 mengangkat tanggung jawab ini dari sekadar kebanggaan nasional menjadi prioritas strategis yang terukur, dengan mengintegrasikan kapasitas ibadah haji, pelestarian warisan, dan pemeliharaan budaya ke dalam kerangka transformasi Kerajaan. Ambisinya bukan hanya menyambut lebih banyak jemaah, melainkan merancang ulang pengalaman berkunjung ke Haramain dan menempatkan Arab Saudi sebagai pusat gravitasi dunia Islam bagi generasi mendatang.

Prioritas ini termasuk dalam Pilar 1 Visi 2030—“Masyarakat yang Dinamis”—yang mencerminkan pengakuan bahwa modernisasi ekonomi harus berlandaskan kesinambungan budaya. Bagi kepemimpinan Kerajaan, tidak ada pertentangan antara pembangunan proyek raksasa dan pelestarian warisan Islam; keduanya merupakan ekspresi yang saling melengkapi dari bangsa yang mantap dengan identitasnya.

Perluasan Umrah: Dari 6.2 Juta menjadi 30 Juta

Metrik paling konkret dalam prioritas ini adalah kapasitas Umrah. Pada tahun dasar 2016, Kerajaan menerima sekitar 6.2 juta jemaah Umrah setiap tahun. Pada 2024, jumlah tersebut melonjak menjadi 16.92 juta—menunjukkan tren yang luar biasa, tetapi masih menyisakan jarak yang cukup besar menuju target pada 2030 sebesar 30 juta jemaah per tahun.

Kebutuhan logistik untuk perluasan ini sangat besar. Menampung 30 juta pengunjung Umrah setiap tahun—di luar sekitar 2 juta jemaah Haji—menuntut peningkatan serentak pada penerbangan, kereta api, jalan raya, perhotelan, teknologi pengelolaan kerumunan, dan layanan kesehatan. Kerajaan meresponsnya dengan program investasi multi-aspek yang menyentuh hampir setiap sektor ekonomi.

Kereta Cepat Haramain, yang menghubungkan Makkah, Madinah, Jeddah, dan King Abdullah Economic City, kini beroperasi sebagai jalur penting bagi pergerakan jemaah. Perluasan kapasitas di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan pembangunan terminal khusus Haji dan Umrah telah mengurangi hambatan yang sebelumnya mewarnai proses kedatangan. Di Makkah sendiri, perluasan kawasan Masjidil Haram yang masih berlangsung—salah satu proyek konstruksi terbesar dalam sejarah manusia—bertujuan meningkatkan kapasitas salat serentak hingga lebih dari 2.2 juta jemaah.

Transformasi digital juga terbukti sama pentingnya. Platform Nusuk, yang diluncurkan sebagai gerbang digital terpadu untuk layanan Umrah dan visa kunjungan, menyederhanakan proses birokrasi yang sebelumnya berbelit-belit. Jemaah kini dapat mengurus visa, memesan akomodasi, mengatur transportasi, dan merencanakan perjalanan ibadah melalui satu antarmuka digital. Pada tahun operasional penuhnya yang pertama, platform ini memproses jutaan permohonan dan secara drastis mengurangi hambatan bagi pengunjung internasional.

Dampak pengganda ekonominya cukup besar. Setiap jemaah Umrah membelanjakan uang untuk perhotelan, ritel, layanan makanan, transportasi, dan telekomunikasi. Kementerian Haji dan Umrah memperkirakan bahwa pencapaian target 30 juta jemaah akan menyumbang puluhan miliar riyal setiap tahun terhadap PDB nonmigas, sehingga ibadah haji dan Umrah menjadi salah satu penggerak diversifikasi ekonomi paling signifikan. Prioritas Haji dan Umrah mengulas aspek operasional secara terperinci.

Situs Warisan UNESCO: Pengakuan Berlipat Ganda

Warisan budaya Arab Saudi jauh melampaui Haramain. Portofolio Situs Warisan Dunia UNESCO Kerajaan meningkat dua kali lipat, dari empat situs pada tahun dasar menjadi delapan situs yang diakui—mencapai target Visi 2030 lebih cepat dari jadwal. Perluasan ini mencerminkan kekayaan nyata aset arkeologis dan budaya sekaligus strategi yang disengaja untuk menempatkan Arab Saudi dalam percakapan warisan budaya global.

Situs-situs yang tercatat mencakup rentang peradaban manusia selama ribuan tahun. Al-Hijr (Madain Saleh), situs UNESCO pertama Kerajaan, melestarikan makam-makam Nabatea yang memiliki arti penting arkeologis setara dengan Petra. Distrik At-Turaif di ad-Dir’iyah—tempat lahir negara Saudi—telah menjalani restorasi ekstensif sebagai bagian dari pengembangan Diriyah Gate yang lebih luas. Penambahan yang lebih baru mencakup Kawasan Budaya Hima, dengan seni cadas berusia lebih dari 7,000 tahun, serta distrik bersejarah Al-Balad di Jeddah, yang arsitektur batu karangnya membuka jendela ke perdagangan Laut Merah selama berabad-abad.

Komisi Warisan Saudi, yang dibentuk untuk mengoordinasikan upaya pelestarian dan promosi, telah mendata puluhan ribu situs warisan di seluruh Kerajaan. Pelacak memantau pendaftaran situs UNESCO dan KPI budaya lainnya. Ambisinya melampaui pengakuan UNESCO, menuju pembentukan ekosistem warisan hidup yang mengintegrasikan situs arkeologis, kerajinan tradisional, warisan budaya takbenda, dan keterlibatan masyarakat.

Program Haji dan Umrah

Program Haji dan Umrah—salah satu Program Realisasi Visi khusus dalam Visi 2030—menjadi mesin operasional bagi prioritas ini. Mandatnya mencakup seluruh perjalanan jemaah, sejak permohonan visa diajukan hingga jemaah meninggalkan Kerajaan.

Inisiatif utama program ini mencakup pembangunan infrastruktur kota cerdas di sekitar tempat-tempat suci, penerapan kecerdasan buatan untuk pengelolaan kerumunan dan keselamatan, penetapan standar mutu bagi penyedia layanan perhotelan, serta penciptaan pengalaman pengayaan yang memungkinkan jemaah mengenal budaya dan warisan Arab Saudi di luar rangkaian ibadah.

Program ini juga memprioritaskan inklusivitas. Layanan khusus bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan pengunjung yang baru pertama kali datang telah diperluas. Dukungan multibahasa—yang kini mencakup puluhan bahasa—memastikan pengalaman spiritual dapat diakses tanpa memandang negara asal jemaah.

Identitas Nasional dalam Masyarakat yang Memodernisasi Diri

Pemajuan nilai Islam dalam Visi 2030 bergerak pada sumbu kedua: penumbuhan identitas nasional di kalangan warga Saudi, terutama kaum muda yang merupakan mayoritas penduduk. Ini bukan sikap defensif, melainkan afirmasi bahwa modernisasi Arab Saudi berakar pada warisan Islamnya, bukan menjauh darinya.

Inisiatif di bidang ini mencakup integrasi warisan Islam ke dalam kurikulum nasional, pengembangan museum dan lembaga budaya yang memberi konteks pada peran Arab Saudi dalam peradaban Islam, serta penyelenggaraan konferensi Islam internasional dan pertukaran akademik. King Abdulaziz Center for World Culture (Ithra) di Dhahran telah menjadi lembaga unggulan yang memadukan kajian Islam dengan seni dan ilmu pengetahuan kontemporer.

Kerajaan juga berinvestasi dalam pelestarian dan pemajuan bahasa Arab serta kaligrafi, yang diakui sebagai unsur mendasar identitas Islam dan nasional. Akademi Bahasa Arab dan berbagai inisiatif kaligrafi berupaya menjaga agar warisan kebahasaan tetap hidup dalam masyarakat yang semakin terglobalisasi.

Investasi Infrastruktur di Sekitar Tempat-Tempat Suci

Skala pembangunan infrastruktur fisik di sekitar Makkah dan Madinah patut mendapat perhatian khusus. Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat-Tempat Suci mengawasi program transformasi yang cakupannya jauh melampaui perluasan Masjidil Haram.

Kawasan perhotelan baru dibangun untuk menampung proyeksi pertumbuhan jumlah jemaah, dengan penekanan pada mutu dan variasi pilihan di berbagai tingkat harga. Jaringan transportasi—termasuk sistem metro, bus rapid transit, dan infrastruktur pejalan kaki—dirancang ulang untuk mengelola kepadatan penduduk yang sangat tinggi selama musim ibadah.

Di Madinah, perluasan Masjid Nabawi dan pengembangan distrik di sekitarnya mengikuti logika serupa: menambah kapasitas sekaligus meningkatkan mutu pengalaman pengunjung. Madinah Knowledge Economic City dan inisiatif terkait bertujuan menjadikan kota tersebut sebagai pusat pembelajaran dan keilmuan Islam, melengkapi arti penting spiritualnya dengan kehidupan intelektual yang dinamis.

Modernisasi Kesehatan dan Keselamatan

Mengelola kesehatan dan keselamatan jutaan jemaah yang terkonsentrasi di ruang terbatas dalam jangka waktu tertentu merupakan salah satu tantangan logistik paling kompleks di dunia. Kerajaan telah berinvestasi besar dalam infrastruktur medis, kemampuan respons darurat, teknologi mitigasi panas, dan sistem pengawasan penyakit.

Pandemi COVID-19 mempercepat penerapan perangkat kesehatan digital dan teknologi pengelolaan kerumunan. Banyak inovasi tersebut—termasuk platform skrining kesehatan, algoritme pengelolaan kapasitas, dan sistem pemantauan waktu nyata—dipertahankan dan disempurnakan untuk era pascapandemi. Hasilnya adalah sistem pengelolaan ibadah yang secara teknologi jauh lebih canggih dibandingkan pada tahun dasar Visi 2030.

Penilaian Kemajuan

Tren prioritas ini cukup menggembirakan. Kurva pertumbuhan Umrah—dari 6.2 juta menjadi 16.92 juta—menunjukkan bahwa Kerajaan mampu meningkatkan volume jemaah dengan laju yang mengesankan, meskipun jarak yang tersisa menuju 30 juta masih menuntut investasi berkelanjutan dan inovasi operasional. Target UNESCO telah tercapai, menyediakan landasan untuk pengakuan warisan lebih lanjut. Transformasi digital layanan jemaah melampaui ekspektasi dan menghasilkan model yang dipelajari oleh destinasi pariwisata bervolume tinggi lainnya.

Tantangan ke depan terutama bersifat logistik dan terkait infrastruktur. Menampung 30 juta jemaah Umrah setiap tahun—jumlah yang akan menjadikan Haramain sebagai destinasi religi paling banyak dikunjungi di dunia dengan selisih yang besar—membutuhkan infrastruktur yang belum sepenuhnya tersedia. Linimasanya ambisius dan risiko pelaksanaannya nyata. Namun, tekad politik, komitmen keuangan, dan kapasitas kelembagaan terbukti telah tersedia.

Signifikansi Strategis

Bagi Arab Saudi, prioritas ini memiliki arti yang melampaui kalkulasi ekonomi. Tanggung jawab menjaga Haramain merupakan fondasi legitimasi negara dan kedudukannya di dunia Islam. Penetapan nilai Islam dan identitas nasional dalam Visi 2030 sebagai prioritas terukur, didanai, dan didukung secara kelembagaan—alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu terjaga dengan sendirinya—mencerminkan pemahaman mendalam bahwa warisan harus dipelihara secara aktif, bukan diwarisi secara pasif.

Integrasi prioritas ini dengan sasaran diversifikasi ekonomi menciptakan siklus yang saling memperkuat: investasi pada infrastruktur ibadah menghasilkan imbal hasil ekonomi, yang membiayai investasi lanjutan, menarik lebih banyak jemaah, dan memperdalam posisi sentral Arab Saudi bagi komunitas Muslim global. Dalam pengertian ini, pemajuan nilai Islam bukan sekadar tujuan sosial, melainkan aset strategis yang menopang keseluruhan arsitektur Visi 2030.