Lewati ke konten utama
Porsi PDB nonmigas: 55% PDB riil 2025 |Tingkat pengangguran warga Saudi: 7,2% Kuartal IV 2025 |Aset kelolaan PIF: USD 1,21 triliun Realisasi 2025 |FDI terhadap PDB: 2,8% Data terbaru 2025 |Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja: 33,9% Data terbaru 2025 |Peringkat kredit: Aa3/A+/A+ Moody's/Fitch/S&P |Pertumbuhan PDB: 4,5% Pertumbuhan riil 2025 |Jemaah umrah internasional: Lebih dari 18 juta 2025 |Porsi PDB nonmigas: 55% PDB riil 2025 |Tingkat pengangguran warga Saudi: 7,2% Kuartal IV 2025 |Aset kelolaan PIF: USD 1,21 triliun Realisasi 2025 |FDI terhadap PDB: 2,8% Data terbaru 2025 |Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja: 33,9% Data terbaru 2025 |Peringkat kredit: Aa3/A+/A+ Moody's/Fitch/S&P |Pertumbuhan PDB: 4,5% Pertumbuhan riil 2025 |Jemaah umrah internasional: Lebih dari 18 juta 2025 |

Kontribusi PDB Nonmigas — Pemantauan Kemajuan

Pantau porsi kegiatan nonmigas Arab Saudi dalam PDB riil: dari baseline 45% menjadi 55% pada 2025, menuju target Visi 2030 sebesar 65%.

Status Terkini

Sesuai Jalur — KPI kontribusi PDB nonmigas ini mengukur porsi ekonomi riil Arab Saudi yang berasal dari kegiatan nonmigas dibandingkan target Visi 2030 sebesar 65% atau lebih.

Kegiatan nonmigas Arab Saudi mencakup 55 persen dari PDB riil menurut Laporan Tahunan 2025 Visi 2030, naik dari baseline sebesar 45 persen pada 2016. Pangsa PDB harga berlaku atau nominal dapat berbeda karena harga minyak secara mekanis mengubah penyebutnya; halaman ini menggunakan seri kontribusi PDB riil resmi sebagai angka utama, kartu KPI, dan indikator ticker.

Metrik Utama

MetrikNilai
Baseline (2016)45% (pangsa PDB riil)
Pangsa (2023)53%
Pangsa (2024)55%
Terbaru (2025)55%
Target 203065%+
Kesenjangan terhadap Target 2030~10 poin persentase
Pertumbuhan Riil PDB Nonmigas (2025)4.9%
Sektor Nonmigas UtamaPariwisata, manufaktur, teknologi, keuangan

Analisis Tren

Metrik kontribusi PDB nonmigas sulit ditafsirkan karena kontribusi terhadap PDB riil, kontribusi terhadap PDB nominal/harga berlaku, dan kontribusi sektor swasta merupakan ukuran yang berdekatan tetapi tidak dapat dipertukarkan. Angka utama resmi 2025 Visi 2030 melaporkan kegiatan nonmigas sebesar 55 persen dari PDB riil. Rasio nominal lebih terpengaruh harga minyak: ketika harga minyak melonjak, seperti terlihat pada pendapatan Aramco, nilai sektor minyak atas dasar harga berlaku meningkat dan secara mekanis mengurangi porsi nonmigas, sekalipun kegiatan nonmigas tumbuh kuat. Risiko definisi tersebut dibahas dalam analisis kesenjangan PDB nonmigas.

Kondisi yang mendasarinya lebih menggembirakan daripada yang tersirat dari rasio utama. Secara riil (setelah penyesuaian inflasi), PDB nonmigas tumbuh dengan laju tahunan majemuk sekitar 5.2 persen sejak 2016, melampaui pertumbuhan PDB keseluruhan dan menunjukkan diversifikasi struktural yang nyata. Sektor pariwisata menonjol, dengan kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB meningkat dari SAR 115 miliar pada 2016 menjadi sekitar SAR 295 miliar pada 2024. Jasa keuangan, teknologi, hiburan, manufaktur, dan logistik juga meningkat porsinya dalam PDB nonmigas. Pengembangan zona ekonomi, proyek giga, dan kawasan ekonomi khusus menciptakan sumber kegiatan ekonomi nonmigas baru di wilayah yang sebelumnya belum berkembang.

Komposisi sektoral pertumbuhan menunjukkan kedalaman diversifikasi. Pariwisata dan perhotelan, layanan digital, teknologi keuangan, kegiatan rekreasi dan budaya, serta manufaktur maju masing-masing tumbuh pada laju riil dua digit. Pembentukan strategi sektoral, yaitu Program Pembangunan Industri dan Logistik Nasional (NIDLP), Program Pengembangan Sektor Keuangan, dan Strategi Pariwisata, memberikan dukungan kelembagaan yang terarah. Investasi asing di sektor nonmigas juga tumbuh; perusahaan internasional mendirikan kantor pusat regional di Riyadh serta berinvestasi dalam usaha manufaktur dan teknologi Saudi.

Metodologi

Seri utama yang digunakan di sini adalah seri kontribusi PDB riil resmi Visi 2030: kegiatan nonmigas sebagai porsi total PDB riil. PDB nonmigas mencakup semua sektor ekonomi kecuali ekstraksi minyak bumi mentah dan gas alam. Laporan tahunan menyajikan seri dari baseline 2016 hingga angka terbaru. Ukuran terkait dalam neraca nasional dapat dinyatakan atas dasar harga berlaku atau harga konstan; varian-varian tersebut tidak boleh dicampur dalam satu kartu KPI. Karena itu, target Visi 2030 sebesar 65 persen paling tepat dibandingkan dengan seri kontribusi PDB riil resmi, kecuali jika suatu halaman secara eksplisit menggunakan rasio nominal/harga berlaku.

Prioritas Terkait

Inilah KPI utama tesis transformasi ekonomi Visi 2030. KPI ini terkait dengan hampir semua program ekonomi: Ekspor Nonmigas (permintaan internasional atas output nonmigas), Kontribusi PDB Sektor Swasta (sektor swasta adalah penggerak diversifikasi), Kontribusi PDB UKM (pertumbuhan usaha kecil mendiversifikasi basis ekonomi), Realisasi Investasi Asing Langsung (investasi asing menciptakan kapasitas nonmigas), dan investasi PIF (penempatan dana kekayaan negara di sektor nonmigas). Metrik ini berfungsi sebagai indikator puncak yang merangkum kemajuan seluruh agenda diversifikasi ekonomi.

Prospek

Target 65 persen sangat bergantung pada harga minyak. Jika harga minyak bertahan di USD 60 per barel, pangsa nonmigas kemungkinan mendekati 60 hingga 65 persen pada 2030 berdasarkan lintasan pertumbuhan nonmigas saat ini. Jika harga bertahan di atas USD 80, pencapaian 65 persen menjadi sangat sulit, terlepas dari laju pertumbuhan nonmigas. Vanderbilt Portfolio menyarankan agar KPI ini terutama dievaluasi melalui laju pertumbuhan PDB nonmigas riil dan perubahan komposisi sektoral, bukan hanya rasio utamanya.

Dari sisi output riil, diversifikasi PDB nonmigas berjalan baik dan sasaran akhir Visi 2030 masih dapat dicapai. Pembentukan sektor ekonomi yang sepenuhnya baru, seperti pariwisata, hiburan, dan olahraga, bersama ekspansi sektor yang sudah ada, seperti manufaktur, jasa keuangan, dan teknologi, merupakan transformasi struktural yang nyata. Vanderbilt Portfolio memproyeksikan kontribusi PDB nonmigas riil sebesar 60 hingga 65 persen pada 2030. Rentang ini mencerminkan ketidakpastian pelaksanaan dan produksi minyak, bukan pembalikan momentum ekonomi nonmigas.