Perusahaan Konstruksi Arab Saudi
Sektor konstruksi Arab Saudi tengah menjalani salah satu program pembangunan paling intensif dalam sejarah dunia. Pendorongnya adalah pelaksanaan puluhan proyek raksasa secara bersamaan, ratusan program infrastruktur, serta ekspansi real estat perumahan, komersial, dan industri di seluruh negeri dalam kerangka Visi 2030. Sektor ini merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap PDB nonmigas dan salah satu pemberi kerja terbesar di Kerajaan, dengan ratusan ribu pekerja di perusahaan kontraktor domestik dan internasional, konsultan teknik, pemasok bahan bangunan, serta subkontraktor spesialis.
Gambaran Pasar
Nilai output tahunan dan kontrak proyek di pasar konstruksi Arab Saudi mencapai ratusan miliar riyal, menjadikannya salah satu pasar konstruksi terbesar di dunia berdasarkan nilai investasi. Portofolio proyeknya mencakup proyek raksasa seperti NEOM, Qiddiya, pengembangan Red Sea, dan Diriyah Gate; infrastruktur transportasi, termasuk sistem metro, jalur kereta api, dan perluasan bandara; infrastruktur energi, termasuk pembangkit listrik dan instalasi energi terbarukan; serta infrastruktur sosial, seperti rumah sakit, sekolah, kawasan perumahan, dan sarana olahraga.
Skala portofolio proyek konstruksi telah menarik kontraktor internasional dari Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Turki, Mesir, dan Eropa untuk bersaing maupun bekerja sama dengan perusahaan Saudi yang sudah mapan. Struktur pasarnya memadukan kontrak engineering, procurement, and construction (EPC) berskala besar untuk proyek utama dengan kontrak yang lebih kecil bagi pengembangan perumahan dan komersial.
Kontraktor Utama
Saudi Binladen Group merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar dan paling penting secara historis di Kerajaan. Portofolionya mencakup situs suci Makkah dan Madinah, infrastruktur transportasi utama, serta pembangunan komersial dan perumahan. Perusahaan ini menjalani restrukturisasi dalam beberapa tahun terakhir dan tetap berperan penting dalam lanskap konstruksi.
Saudi Oger, yang dahulu menjadi kekuatan dominan dalam konstruksi Saudi, menghentikan operasinya pada 2017. Keluarnya perusahaan itu menciptakan celah pasar yang kemudian diisi perusahaan lain. Al Bawani, Nesma, El-Seif Engineering, dan Almabani General Contractors termasuk perusahaan konstruksi Saudi terkemuka yang beroperasi di berbagai segmen. Larsen & Toubro, Samsung Engineering, Hyundai Engineering and Construction, serta China State Construction termasuk perusahaan internasional yang aktif di pasar ini.
Royal Commission for Riyadh City dan Royal Commission for Al-Ula mengoordinasikan kegiatan konstruksi di wilayah kewenangan masing-masing. Keduanya mengelola pengadaan dan pengawasan kontraktor untuk sejumlah program pembangunan paling menonjol di Kerajaan.
Bahan Bangunan
Lonjakan pembangunan menghasilkan permintaan bahan bangunan yang sangat besar, menguntungkan produsen semen, baja, beton, dan bahan konstruksi lainnya di dalam negeri. Saudi Cement Company, Yamama Cement, Southern Province Cement, dan produsen semen lain yang tercatat di bursa mengalami pertumbuhan permintaan yang sejalan dengan aktivitas konstruksi. Saudi Steel Pipe Company dan Al Rajhi Steel memasok baja struktural dan baja tulangan bagi sektor konstruksi.
Strategi industrialisasi Kerajaan mencakup pengembangan kapasitas manufaktur bahan bangunan lokal, termasuk bahan maju seperti sistem beton pracetak, kaca, dan produk insulasi. Ketergantungan impor untuk bahan khusus tertentu menimbulkan tantangan manajemen rantai pasok, terutama saat permintaan mencapai puncak.
Tenaga Kerja dan Saudisasi
Tenaga kerja konstruksi sebagian besar terdiri atas ekspatriat. Pekerja dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah merupakan mayoritas tenaga kerja di lokasi proyek. Persyaratan Saudisasi di bidang konstruksi telah dikalibrasi dengan cermat agar sesuai dengan karakteristik operasional sektor ini. Sasaran lokalisasi difokuskan pada peran teknik, manajemen proyek, dan pengawasan, bukan kategori pekerjaan manual.
Kondisi kerja dan praktik kesejahteraan tenaga kerja di sektor konstruksi semakin mendapat perhatian. Reformasi yang dilakukan mencakup sistem perlindungan upah, peningkatan standar hunian pekerja, serta peraturan keselamatan dan kesehatan kerja yang lebih ketat. Reformasi ini selaras dengan komitmen Kerajaan yang lebih luas untuk memodernisasi pasar tenaga kerja.
Tantangan
Sektor ini menghadapi sejumlah tantangan, termasuk ketersediaan tenaga kerja pada periode puncak permintaan, inflasi biaya bahan, kompleksitas pengelolaan puluhan proyek berskala sangat besar secara bersamaan, serta kebutuhan menjaga standar mutu dalam program konstruksi yang berkembang pesat. Pengelolaan arus kas tetap menjadi perhatian bagi kontraktor kecil; siklus pembayaran proyek terkadang melampaui ketentuan kontrak.
Besarnya portofolio proyek konstruksi Visi 2030 menimbulkan risiko pelaksanaan yang dipantau secara aktif oleh investor dan analis. Kemampuan Kerajaan mewujudkan ambisi konstruksinya tepat waktu dan sesuai anggaran akan menjadi ujian penentu bagi kapasitas pelaksanaan Visi 2030.
