Arab Saudi dan Indonesia merupakan dua negara paling berpengaruh dalam ekonomi Islam global, dengan kepemimpinan yang bertumpu pada sumber kekuatan berbeda. Pengaruh Arab Saudi berasal dari perannya menjaga situs-situs tersuci Islam dan kekayaan minyaknya, sedangkan pengaruh Indonesia bersumber dari populasi Muslim terbesar di dunia dan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Hubungan bilateral kedua negara mencakup pariwisata religi, energi, perdagangan, serta hubungan investasi yang terus berkembang.
PDB dan Skala Ekonomi
PDB nominal Indonesia sekitar $1.4 triliun melampaui $1.1 triliun milik Arab Saudi, menjadikan Indonesia ekonomi terbesar di Asia Tenggara sekaligus anggota G20. Namun, dengan populasi 278 juta jiwa, PDB per kapita Indonesia hanya $5,000, sebagian kecil dari $32,000 di Arab Saudi. Kesenjangan per kapita ini mencerminkan tahap pembangunan Indonesia dan tantangan besar untuk mewujudkan kemakmuran di 17,000 pulau.
Pertumbuhan PDB Indonesia rata-rata 5 persen per tahun, ditopang konsumsi domestik, investasi infrastruktur, dan ekonomi digital yang berkembang. Pertumbuhan Arab Saudi lebih berfluktuasi, tetapi kuat dalam beberapa tahun terakhir berkat belanja Vision 2030 dan ekspansi sektor nonmigas.
Populasi dan Demografi
Jumlah penduduk Indonesia sekitar 278 juta jiwa, atau 8.4 kali jumlah penduduk Arab Saudi yang mencapai 33 juta jiwa. Indonesia juga memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Bonus demografi Indonesia, dengan usia median 30 tahun dan kelas menengah yang terus berkembang, menciptakan permintaan konsumen yang menarik investor global. Namun, kesenjangan antardaerah antara Jawa (tempat sebagian besar kegiatan ekonomi terkonsentrasi) dan pulau-pulau di luarnya masih menjadi tantangan yang terus berlangsung.
Populasi Arab Saudi yang lebih kecil ditopang pendapatan dan daya beli per kapita yang lebih tinggi. Sistem haji dan umrah Kerajaan itu menarik lebih dari 2 juta jemaah Indonesia setiap tahun, sehingga Indonesia menjadi negara asal terbesar untuk pariwisata religi Islam ke Arab Saudi.
Energi dan Sumber Daya
Cadangan minyak Arab Saudi sebesar 267 miliar barel dan posisinya sebagai eksportir utama sangat kontras dengan posisi Indonesia sebagai mantan anggota OPEC yang kemudian menjadi pengimpor neto minyak. Produksi Indonesia sekitar 640,000 barel per hari, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, Indonesia merupakan produsen utama batu bara, minyak sawit, nikel, timah, dan tembaga, serta eksportir batu bara termal terbesar di dunia.
Cadangan dan kapasitas pengolahan nikel Indonesia bernilai strategis bagi rantai pasok baterai kendaraan listrik. Larangan ekspor bijih nikel mentah telah menarik investasi hilir dalam jumlah besar, termasuk dari perusahaan Tiongkok dan Korea Selatan. Sektor pertambangan Arab Saudi yang sedang berkembang dan keahlian Indonesia yang telah mapan dalam ekstraksi mineral membuka peluang sinergi bilateral.
Diversifikasi Ekonomi
Perekonomian Indonesia secara alami beragam, mencakup pertanian, manufaktur, pertambangan, jasa, dan ekonomi digital yang tumbuh pesat. Perusahaan rintisan unicorn Indonesia, termasuk GoTo dan Bukalapak, mencerminkan ekosistem perusahaan rintisan teknologi yang dinamis. Manufaktur menyumbang sekitar 19 persen PDB, dengan otomotif, tekstil, pengolahan pangan, dan elektronik sebagai subsektor utama.
Diversifikasi Vision 2030 Arab Saudi lebih terkonsentrasi dan diarahkan oleh negara. Keunggulan Kerajaan itu dalam pengerahan modal dan pembangunan infrastruktur dilengkapi keunggulan Indonesia dalam ketersediaan tenaga kerja, skala manufaktur, dan inovasi digital. Kedua negara mengembangkan pariwisata: Arab Saudi melalui proyek giga dan hiburan, sedangkan Indonesia mengandalkan citra Bali yang sudah mapan serta destinasi baru yang mulai berkembang.
Kepemimpinan dalam Ekonomi Islam
Kedua negara merupakan pilar ekonomi Islam global yang nilainya lebih dari $2.2 triliun. Arab Saudi unggul dalam keuangan Islam (dengan sejumlah bank Islam terbesar di dunia) dan pariwisata halal. Indonesia unggul dalam produksi pangan halal, fesyen Islam (busana modest), dan pendidikan Islam. Malaysia bersama kedua negara ini membentuk segitiga kepemimpinan ekonomi Islam global.
Keahlian Arab Saudi dalam keuangan Islam dan skala industri halal Indonesia membuka peluang bilateral untuk mengembangkan rantai pasok halal, tekfin Islam, dan produk investasi yang sesuai dengan prinsip syariah.
Dana Kekayaan Negara
PIF Arab Saudi mengelola lebih dari $930 miliar. Dana kekayaan negara Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), yang didirikan pada 2021, mengelola portofolio jauh lebih kecil, sekitar $20 miliar, dengan fokus pada investasi bersama dalam proyek infrastruktur, layanan kesehatan, dan ekonomi hijau. PIF telah berinvestasi bersama INA dalam proyek infrastruktur di Indonesia, mencerminkan koordinasi investasi bilateral yang kian erat.
Hubungan Bilateral
Hubungan Arab Saudi–Indonesia bertumpu pada ikatan keagamaan, perdagangan energi, dan mobilitas tenaga kerja. Sekitar 1.5 juta pekerja Indonesia tinggal di Arab Saudi, terutama di sektor domestik, ritel, dan konstruksi. Remitansi dari Arab Saudi ke Indonesia merupakan sumber devisa yang penting bagi rumah tangga Indonesia.
Sistem pengelolaan haji menjadi penghubung kelembagaan utama antara kedua pemerintah. Pengaturan kuota haji Indonesia, logistik jemaah, dan pengelolaan keuangan merupakan salah satu operasi layanan bilateral berulang terbesar di dunia.
Implikasi Investasi
Indonesia menawarkan akses investor ke pasar terbesar ASEAN, eksposur komoditas, dan pertumbuhan ekonomi digital. Arab Saudi menawarkan modal yang ditopang minyak, peluang proyek transformasional, dan pasar konsumen premium. Jalur investasi bilateral yang didukung kerja sama PIF–INA dan arus pariwisata religi terus berkembang. Investor yang mencari eksposur ke ekonomi Islam dapat mengambil posisi komplementer di kedua pasar, dengan memanfaatkan kecanggihan keuangan Arab Saudi dan skala pasar Indonesia.
